Kayu merupakan salah satu material konstruksi dan interior yang paling populer karena estetika alami dan kekuatannya. Namun, salah satu kesalahan fatal yang sering dilakukan oleh pemilik rumah maupun kontraktor adalah memilih jenis kayu hanya berdasarkan tampilan visual atau harga, tanpa mempertimbangkan lokasi penempatannya.
Setiap jenis kayu memiliki karakteristik fisik dan kimia yang berbeda, terutama dalam hal densitas, porositas, dan ketahanan terhadap organisme perusak seperti rayap atau jamur. Lokasi penempatan kayu menentukan paparan lingkungan yang akan diterima, seperti tingkat kelembapan, paparan sinar matahari langsung, hingga kontak dengan tanah.
Kesalahan paling sering terjadi pada area luar ruangan (outdoor) seperti teras, pagar, atau pergola. Banyak orang menggunakan kayu kelas menengah yang hanya cocok untuk interior. Akibatnya, kayu mengalami degradasi cepat karena:
Contoh kekeliruan: Menggunakan kayu pinus tanpa treatment khusus untuk dek kolam renang. Pinus memiliki porositas tinggi yang membuatnya cepat lapuk jika terus-menerus terkena air.
Di area interior yang lembap, kekeliruan sering terjadi ketika pemilik memilih kayu yang memiliki tingkat penyusutan dan pemuaian yang tinggi. Di kamar mandi atau area cuci, uap air yang konstan dapat menyebabkan kayu melengkung (warping) jika tidak dipilih jenis kayu yang stabil.
Penggunaan kayu lunak di area basah tanpa lapisan pelindung (coating) yang tepat akan menyebabkan tumbuhnya jamur hitam yang tidak hanya merusak estetika tetapi juga kesehatan penghuni rumah.
Banyak yang keliru menggunakan kayu dekoratif untuk fungsi struktural. Misalnya, menggunakan kayu yang memiliki serat indah namun memiliki kekuatan tekan dan tarik yang rendah untuk kuda-kuda atap atau penyangga lantai. Hal ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kegagalan struktur bangunan dalam jangka panjang.
Untuk menghindari kesalahan tersebut, berikut adalah prinsip dasar pemilihan kayu: